Rabu, 08 Februari 2012

Penggalan novel

Penggalan Novel Surat Kecil Untuk Tuhan
Karya Agnes Danovar

T
iga hari lamanya aku mengalami koma tanpa pernah bangun. Dan ketika aku terbangun dari mimpiku, perlahankubukakan mataku, seluruh keluargaku ada disampingku. Ayah, ibu, kedua kakakku, paman dan bibi serta teman-temanmu telah ada disampingku. Suara ayat-ayat Al-Quran terdengar dan aku senang mereka tidak marah padaku karena aku pergi tanpa pamitan. Ayah menyadari aku terbangun dengan cepat memanggilku...
“Keke.. Keke sudah bangun?”tanya ayah dan diikuti oleh yang lain.
“Ayah, maaf... Keke pergi tanpa pamit!”ujarku.
Dan ayah binggung dengan pernyataanku barusan. Dengan suara yang pelan karena aku tak sanggup bicara, serasa ada bola dimulutku.
“Nggak apa-apa, Keke kalau mau pergi, pergi aja. Ayah udah ikhlas kok.”ujar ayah yang mulai mengerti maksudku.
“Ayah... Ibu... Kak Chika, Kiki.”Dan mulutku mulai tak kuat untuk berbicara.
Aku masih ingin mengatakan beberapa hal namun suaraku hilang dari mulutku. Aku kesulitan untuk berkata-kata dan mengapa disaat seperti ini, aku hanya menangis ketika melihat mereka ada disampingku terlihat cemas. Ayah mencoba mendekatkan telinganya padaku namun sia-sia karena tidak ada suara yang bisa ku sampaikan. Pamanku mendapatkan ide untuk mengambil sebuah kertas dan pena lalu membiarkan aku menulis.
“Tulis disini, Keke... Tulis disini!”ucap pamanku.
Dengan sekuat tenaga aku menggunakan jariku untuk menulis. Tuhan maha besar membiarkan tanganku yang lumpuh dapat bergerak. Walau banyak yang ingin ku tulis, tapi tanganku mulai tak kuat bergerak. Aku hanya ingin melihat keluargaku bahagia dan rukun. Aku ingin ketika aku pergi keluarga bisa ikhlas dan menerima semua ini. 15 tahun lamanya Keke bisa hidup dalam sebuah kebahagiaan di dunia ini.
Dan Tuhan pun mengijinkan aku menulis walaupun yulisan yang mampuk ku sampaikan hanya...
Rukun dan bahagialah ketika Keke pergi....
Tulisan tersebut setidaknya menjadi harapan terakhirku. Ibu, maafkan aku bila selama ini banyak salah terhadapmu. Ayah, terimakasih karena telah merawat Keke tanpa pernah menyerah. Kedua kakakku yang selalu ada ketika kubutuhkan. Pak Iyus, sahabat-sahabatku yang telah memberikan aku kenangan ketika aku bersama kalian. Dan yang terakhir Andi, orang yang tidak akan pernah sirna dalam hidupku. Walau aku tidak mempunyai napas untuk menghirup udara, tapi aku mempunyai napas untuk mengingat kalian selamanya.
Setelah apa yang ingin ku sampaikan telah selesai, seluruh keluargaku mulai mengikhlaskan aku untuk pergi. Air mata menjadi tanda terakhir ketika aku mulai mengantuk. Aku merasa lelah, aku ingin memejamkan mataku kembali. Tapi aku melupakan satu hadiah yang kubawa dari kakak untuk orang-orang yang ku sayangi. Sayangnya aku baru menyadari bunga melati yang kubawa itu telah hilang saat aku berlari oleh angin.
Tapi aku masih bisa memohon pada kakak cantik yang berada disana, yang sedang menungguku. Bolehkan aku meminta untuk memberikan harum bunga melati kepada setiap orang yang kutinggalkan? Biarkan harum tersebut menghapus duka dalam hati mereka, biarkan harum tersebut membawaku kepadamu. Karena aku telah siap untuk tinggal bersama diistanamu. Dan biarkan harum tersebut mengakhiri duka sedih ini menjadi kebahagiaan. Biarkan harum tersebut menjadi pertanda aku telah pergi dari dunia ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar