Senin, 13 Februari 2012

Curahan Hati Yuuki-chan =="

Oh, God....
Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi kenapa hasilnya masih kurang memuaskan? Apa usahaku kurang? Atau aku kurang serius berusaha? God..., I try the best what I can do! Tapi sekarang aku jadi Down.... How sad....!

Rabu, 08 Februari 2012

MEMORI, PIKIRAN, DAN BAHASA


MAKALAH
MEMORI, PIKIRAN, DAN BAHASA

Disusun untuk memenuhi tugas Psikolingiuistik.
Dosen pengampu :




Disusun oleh kelompok 9.
Citra
Mina
Yuli Mustikah                         : 09410287



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI SEMARANG
2011
KATA PENGANTAR


Kata memori dipilih karena padanannya. Ingatan mempunyai makna yang lebih luas daripada memori. Kata ingatan tidak hanya bisa dikaitkan dengan verba mengingat tetapi juga dengan verba mengingatkan, memperingati dan memperingatkan sehingga ia ada kaitannya dengan peringatan. Kata yang terakhir ini bisa merujuk ke suatu peristiwa menyenangkan ataupun sesuatu yang bersifat mengancam.
Makalah MEMORI, PIKIRAN DAN BAHASA ini berisi tentang pengertian memori, proses pembentukan memori serta hubungan antara pikiran dan bahasa pada manusia yang diharapkan mampu menambah wawasan pembaca akan pentingnya memori dan pikiran.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan mampu menambah ilmu dalam proses pembelajaran dikelas.


                                                                                    Penulis.













BAB I
PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
            Memori atau ingatan adalah bagian integral dari eksitensi manusia, maksudnya manusia mampu menyimpan semua ingatan baik dari masa lalu ataupun pada kejadian yang baru saja dialaminya.

2.Rumusan Masalah
a.Apa saja macam-macam memori?
b.Bagaimana proses pembentukan memori?
c.Apa hubungan antara pikiran dan bahasa?

3.Tujuan
a.Mengetahui tentang macam-macam memori.
b.Mengetahui bagaimana proses pembentukan memori.
c.Untuk mengetahui hubungan antara pikiran dan bahasa.












BAB II
PEMBAHASAN


Memori merupakan bagian integral dari eksitensi manusia. Sebagian besar apa yang kita ketahui tentang dunia ini bukan berasal dari saat kita lahir tetapi kita peroleh melalui pengalaman yang kita simpan dalam memori kita. Psikolog asal Jerman Herman Ebbinghaus (1850-1909) berpendapat mengenai memori yang hidupnya singkat/ memori jangka pendek (short-term memory) dan memori yang hidupnya lama/ memori jangka panjang (long-term memory).

A. Macam-macam Memori
            Squire dan Kandel (1999) membagi memori menjadi yakni memori nondeklaratif dan memori deklaratif. Memori nondeklaratif berasal dari pengalaman tetapi terwujud dalam perubahan perilaku, bukan relokasi terhadap peristiwa masa lalu. Memori nondeklaratif ini bersifat instingtif (menekankan pada insting).
Memori deklaratif adalah memori untuk peristiwa, fakta, kata, muka, musik dan segala bentuk pengetahuan yang telah kita peroleh dalam hidup. Memori ini lebih menekankan pada tindakan.
Faktor-faktor yang menentukan pemerolehan memori deklaratif:
1) Faktor Keseringan
            Makin sering sutu peristiwa diulang makin besar kemungkinan untuk memori peristiwa tersebut akan tertanam.
2) Faktor relevansi
            Jika sebuah pengalaman dirasakan relevan dan berkesan akan menumbuhkan memori yang cukup lama bahkan seumur hidup, misalnya cinta pertama.
3) Faktor signifikansi
            Suatu hal yang signifikan umumnya akan diingat cukup lama.
4) Faktor gladi kotor
            Artinya seseorang harus berlatih secara terus meneru untuk membentuk memorinya. Misalnya seorang penyanyi yang berlatih menghapalkan lagunya.
5) Faktor Keteraturan
            Hal-hal yang ditata secara teratur akan lebih mudah diingat dari pada yang diletakkan secara acak.

            Seorang psikolog bernama William James (1841-1910) memebagi memori menjadi dua yaitu memori pendek dan memori panjang.
1. Memori Pendek.
            Memori pendek merupakan memori yang menahan informasi secara temporer sampai memori itu dilupakan atau dimasukkan ke dalam memori panjang. Memori pendek dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Memori pendek sejenak
       Memori ini merajuk pada informasi yang dapat ditahan pada saat memori itu diperoleh sehingga fokus perhatian ada pada aliran pikiran yang sedang melaju. Memori pendek maksimal hanya dapat bertahan selama 30 detik saja.
b) Memori pendek kerja
       Memori pendek kerja adalah perpanjangan dari memori pendek sejenak hanya untuk beberapa menit saja karena proses pengulangan, misalnya mengulang nomor telpon sebelum menekan nomor-nomor telpon yang akan kita hubungi.
2. Memori Panjang.
            Memori yang tersimpan selama kurun waktu yang lama, bisa saja seumur hidup tersimpan. Misalnya siapa guru yang paling disukai atau orang yang paling dibenci.

B. Pembentukan dan Pemakaian Memori
            Memori dibentuk dan dipakai memalui tiga tahap: input, penyimpanan dan output (Clark dan Clark 1977: 134-136; Engel 1999:5).
1) Tahap Input
            Orang umumnya menerima masukan, baik lisan maupun tulisan, kemudian memberikan interpretasi tentang masukan itu untuk memahaminya. Biasanya orang memperhatikan maknanya, bukan kata-katanya. Karena itu, yang disimpan dalam memori bukan kata-kata yang didengar atau dibaca tetapi isi dari keseluruhan kata-kata itu.
2) Tahap penyimpanan
            Tahap penyimpanan dimulai dengan proses menyimpan informasi pada memori pendek, bila informasi tersebut dirasakan penting dan perlu disimpan kedalam jangka waktu lama, maka informasi itu dikirim ke memori panjang.
3) Tahap Output
            Pada tahap output ini ada dua cara yang dipakainya: rekognisi (recognition) dan Rekol (recall). Pada umumnya rekognisi lebih mudah daripada rekol, karena Rekognisi adalah proses pemanggilan memori dengan meminta seseorang untuk dapat merekognisi sesuatu yang telah diberikan sebelumnya. Misalnya seseorang diminta menjawab apakah benda yang diperlihatkan padanya pernah dia lihat sebelumnya.
            Sedangkan pada rekol orang diminta untuk menyatakan sesuatu yang telah dia lihat atau dengar sebelumnya. Misalnya seseorang diperlihatkan sebuah benda yang pernah dia lihat sebelumnya kemudian memintanya untuk menjawab benda apa itu.

C. Memori dan Hafalan
            Hafalan juga adalah memori tapi prosesnya berbeda. Memori bisa terbentuk tanpa kita mengadakan suatu usaha khusus untuk memperolehnya. Sedangkan hafalan hanya akan menjadi memori dengan suatu tindakan yang khusus. Sesuatu akan dapat dihafalkan dengan mudah apabila bahan tersebut bermakna/ memiliki makna.
            Misalnya seorang aktor harus mempelajari berulang-ulang (menghafalkan) naskah yang akan diucapkannya, dari hal tersebut dia akan menyimpan hasil hafalan itu didalam memorinya.

D. Proposisi Dalam Memori
            Yang tersimpan dalam memori bukanlah kata melainkan makna. Begitu makna suatu ujaran sudah kita tangkap, kata-katanya sudah tidak kita perlukan lagi hanya makna atau proposisilah yang kita simpan.
            Gorge Miller (1962) dengan teorinya bernama Theory of Derivational Complexity atau TDC mengemukakan, mudah tidaknya makna suatu kalimat dipahami ditentukan oleh derivasi/ susunan kalimat itu. Dalam TDC terkandung pengertian bahwa kalimat dinyatakan sebagai proposisi dengan segala macam saling hubungnya.
            Perhatikan kalimat berikut:
1) Senna membeli sepasang sepatu baru.
2) Senna tidak membeli sepau baru.
3) Apakah Senna membeli sepatu baru?
4) Bukankah Senna membeli sepatu baru?
            Diantara ke-4 kalimat tersebut kalimat pertamalah yang mudah untuk dimengerti. Kalimat ke-2 susah dimengerti karena mengurupakan derivasi negative, sendankan kalimat ke-3 susah dimengerti karena kalimat tersebut merupakan derivasi introgatif, dan kalimat ke-4 adalah yang paling sulit karena perpaduan antara derivasi negatif dan introgatif.

E. Pikiran dan Bahasa
            Sebagian orang berpandangan bahwa orang dapat berpikir tanpa memakai bahasa. Seorang filosof bernama Mueller (1887) berpandangan bahwa bahasa dan pikiran tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak mungkin berpikir tanpa bahasa.
            Menurut Piaget (1924/55) yang meneliti anak-anak untuk melihat bagaimana bahasa terkait dengan pikiran menyimpulkan ada dua macam modus pikiran: pikiran terarah (directed) atau pikiran inteligen (inteligent) dan pikiran tak terarah atau pikiran autistik (autistic).
Kenyataan bahwa anak berbicara pada orang lain maupun pada dirinya sendiri menimbulkan pertanyaan apakah ada derajat komunikabilitas pada anak. Piaget percaya hal itu ada dan menamakannya sebagai pikiran egosentris dan bentuk bahasanya sebagai bahasa egosentris. Sosialisasi dengan anak lain disekitar menurunkan derajat egosentrisme. Makin besar sosialisasi itu, makin mengecilnya ujaran egosentrisnya dan lama-lama hilang.
Psikolog Rusia Vygotsky (1962) berpandangan bahwa ujaran egosentris tidak hilang melainkan mengalami tranformasi genetik dan berubah menjadi apa yang dia namakan inner speech. Hubungan antara inner speech dengan external speech mau tak mau harus memanfaatkan bunyi karena ujaran hanya dapat terwujud dengan bunyi fonetik. Namun tidak berarti bahwa inner speech hanyalah wujud batin dari external speech. Inner speech masih suatu bentuk ujaran, yakni pikiran yang berkaitan dengan kata. Bedanya adalah external speech terwujud dalam kata sedangkan pada inner speech kata-kata itu lenyap pada saat pikiran itu terbentuk.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pada saat anak tumbuh pikiran yang terujar menjadi makin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak lagi dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan. Jarak yang makin jauh antara inner speech dengan bunyi fonetik yang dipakai untuk mewakilinya mempercepat proses berpikir.



BAB III
PENUTUP

Memori merupakan bagian integral dari eksitensi manusia. Sebagian besar apa yang kita ketahui tentang dunia ini bukan berasal dari saat kita lahir tetapi kita peroleh melalui pengalaman yang kita simpan dalam memori kita.  Memori dibentuk dan dipakai memalui tiga tahap: input, penyimpanan dan output. Hafalan juga adalah memori tapi prosesnya berbeda. Memori bisa terbentuk tanpa kita mengadakan suatu usaha khusus untuk memperolehnya. Sedangkan hafalan hanya akan menjadi menjadi memori dengan suatu tindakan yang khusus
Yang tersimpan dalam memori bukanlah kata melainkan makna. Begitu makna suatu ujaran sudah kita tangkap, kata-katanya sudah tidak kita perlukan lagi hanya makna atau proposisilah yang kita simpan.
Menurut Piaget (1924/55) yang meneliti anak-anak untuk melihat bagaimana bahasa terkait dengan pikiran menyimpulkan ada dua macam mous pikiran: pikiran terarah (directed) atau pikiran inteligen (inteligent) dan pikiran tak terarah atau pikiran autistik (autistic).
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pada saat anak tumbuh pikiran yang terujar menjadi makin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak lagi dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan. Jarak yang makin jauh antara inner speech dengan bunyi fonetik yang dipakai untuk mewakilinya mempercepat proses berpikir.


Teori Belajar Konstruktivisme


Teori Belajar Konstruktivisme

1.  Teori Konstruktivisme
Salah satu prinsip yang terpenting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus dapat membangun pengetahuan didalam benaknya. Peran guru disini adalah sebagai menciptakan cara mengajar yang mampu membuat informasi yang disampaikan menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa untuk menuangkan ide-idenya. Intinya guru sebagai motivator dalam pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan diatas, sebenarnya sudah terjadi revolusi di dalam psikologi pendidikan. revolosi itu terjadi karena telah munculnya teori konstruktivistik. Menurut Brooks dalam Slavin (2000:256) mengatakan “’ the essence of contructivist theory is the idea that learners must individually discover and transform complek information if they are to make it their own.
Menurut Von Glasersfeld dalam Suparno (1997) “Kontruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita konstruksi (bentukan) kita sendiri’. Hal ini berarti bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan yang ada. Tetapi pengetahuan merupakan akibat dari suatu kunstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Dalam kontruktivis menyatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, maka mereka menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain bahkan secara prinsipil.
Menurut Slavin (2000:256) contructivist theories of learning, theories that state that state that learners must individually discover and transform complekkx information, cheking new information against old rules and revising rules when they no longer work.
Jadi teori konstruktivis adalah teori yang menyatakan bahwa perolehan pengetahuan atas bentukan sendiri dari pebelajar untuk menjadi miliknya dan mentransfer informasi secara komplek menjadi sederhana bermakna, agar menjadi miliknya sendiri
2.      Sejarah Kontruktivisme
Konstruktivis lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam memahami informasi-informasi baru.
Pembelajaran sosial ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky. Menurut Karpov dan Bransford dalam Slavin (2000) yang digunkakan dalam menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek dan penemuan.
Empat kunci yang diturunkan dari teori ini adalah pertama, penekanannya pada hakikat sosial dari pembelajaran yaitu siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Kedua, zona perkembangan terdekat atau zone of proximal development yaitu bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. ketiga, pemagangan kognitif atau cognitife apprenticeship yaitu proses dimana seseorang tahap demi tahap berkesepakatan dalam belajar dengan seseorang apakah seorang yang dewasa atau teman sebaya yang lebih tinggi. Dan yang keempat adalah scaffolding atau mediated learning yaitu siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks sulit, dan realistic dan kemudian diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugasnya .
3.  Prinsip dan karakteristik Belajar Konstruktivis
Dalam teori belajar konstruktivistik (Brooks, 1990. Slavin,2000) ciri khas belajar kontruktivis adalah pebelajar harus secara individual menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi sederhana bermakna, agar menjadi miliknya sendiri. Teori ini berpendapat bahwa pebelajar selalu membandingkan informasi yang satu dengan informasi yang lain jika tidak cocok ia berupaya untuk mengubahnya agar sesuai dengan skemanya. Jadi pebelajar bersifat konstruktif, artinya membangun makna, pemahaman dari bermacam-macam informasi pengertian konstruktif dapat digambarkan sebagai proses berpikir pada saat terjadinya penemuan ilmiah, pemecahan masalah, menciptakan sesuatu, kegiatan tersebut melibatkan eksplorasi, eksperimentasi, kreatifitas, ketekunan, kesabaran, rasa ingin tahu, dan kerjasama. Pandangan ini mempunyai implementasi yang sangat besar untuk pembelajaran karena mendorong pebelajar berperan lebih aktif dalam belajarnya.
Suparno (1997) mengidentifikasi 4 prinsip kontruktivis dalam belajar yakni sebagai berikut; (1) pengetahuan dibangun oleh mahasiswa sendiri baik secara personal maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkanb dari pebelajar kepada pebelajar, kecuali dengan keaktifan mahasiswa itu sendiri untuk menalar, (3) pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien.
Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pebelajar membangun sendiri pengetahuannya sendiri, mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi
Sedangkan Slavin (1997) mengidentifikasi 4 karakteristik belajar dengan pendekatan konstruksi yaitu : (1) Proses Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa dapat diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca. (2) pembelajaran kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temanya. (3) Generative learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun apabila kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi mental dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman mereka. (4) pembelajaran dengan penemuan yaitu, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
4. Pembelajaran Menurut Konsep Kontruktivisme
Menurut konsep kontruktivisme, pengetahuan seseorang bersifat temporer, terus berkembang, terbentuk dengan mediasi masyarakat dan budaya. Pengetahuan itu tidak pernah berhenti berkembang. Pengetahuan dalam diri seseorang terbentuk ketika seseorang mengalami tempaan kognitif. Melalui persepektif ini belajar dapat dipahami sebagai proses terbentuknya konflik kognitif yang bergulir dengan sendirinya dalam diri seseorang ketika yang bersangkutan memperoleh pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan kegiatan melakukan refleksi.
Para pendidik yang telah mencoba mewujudkan paradigma konstruktivisme didalam kelas kemudian mendiskripsikan prinsip-prinsip pembelajaran berdasarkan paradigma tersebut. Catherine Twomey Fosnot, ketika memberikan pengantarnya untuk buku berjudul “ In Search of Understanding the Case for Contructivist Classroom” karya Grennon Brooks dan Brooks (1993) mengformulasikan 5 prinsip belajar menurut paradigma konstruktivisme yang satu dengan yang lain berjalin berkelindan, yaitu: (1) menghadapkan peserta didik kepada problem yang saling berkaitan; (2) membuat struktur pembelajaran lewat konsep pokok dan disekitar pikiran dasarnya; (3) mendorong dan menghargai munculnya pandangan dari dalam diri peserta didik ; (4) kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan dan kemauan peserta didik, dan (5) selalu menilai kemajuan peserta didik melalui konteks pembelajaran. Kelima prinsip akan menjadi subur didalam kelas apabila guru dengan iklas menerima dan mendorong tumbuhnya otonomi dalam diri siswa, data mentah hasil belajar dan sumber utama rekaman hasil belajar lainnya dijadikan dasar untuk meneliti kemajuan belajar siswa. Kelas akan menjadi hidup dan suasana kelas kontruktivisme akan mendapatkan lahan yang subur apabila guru menerima dengan lapang dada terbuka dan memberikan tempat terhadap munculnya pikiran siswa, rasa ingin tahu, keinginan meneliti, dialog guru siswa dan siswa-siswa, serta keberanian mempersoalkan sesuatu yang belum jelas.
Driver dan Oldham dalam suparno (1997) menyatakan beberapa ciri mengajar kontruktivis, sebagai berikut :
  1. Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topik yang hendak dipelajari.
  2. Elicitasi, murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain. Murid diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasikan, dalam wujud tulisan, gambar, ataupun poster.
  3. Restrukrisasi ide. Dalam hal ini ada 3 hal yaitu; (1) klasifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain/ teman lewat diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk mengkonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok ; (2) membangun ide baru, ini terjadi bila dlam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan teman.;(3) mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen, kalau dimungkinkan ada baiknya gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan percobaan atau persoalan yang baru.
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan dalam banyak situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap, bahkan lebih rinci dengan segala pengecualiannya.
  5. Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya entah dengan menambah sesuatu, atau mengubahnya menjadi lebih lengkap.
5.   Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontruktivis
Model pembelajaran yang di kembangkan dengan pendekatan Konstruktivistik adalah Model pembelajaran berdasarkan Masalah (Problem based Learning ). Dan pembelajaran kooperatif (cooperative learning).Model pembelajaran ini mencakup pendekatan pembelajaran luas, dan menyeluruh (Areunds ,1997;7)
Model problem based learning meliputi kelompok–kelompok belajar pembelajaran. Bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah di sepakati bersama. Pebelajar menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur, pemecahan masalah dan berfikir kritis, dengan demikian modal pembelajaran yang di kembangkan menggunakan sejumlah keterampilan metodologi dan posedural seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan , melakukan penelitian , berdiskusi dan memperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif , menciptakan suatu karya ,dan melakukan presentasi.
Beberapa alasan yang di jadikan pijakan dalam mengembangkan model pembelajaran ini, yakni (1) rasional, teorik yang logis yang di susun oleh para pengembang (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana pebelajar belajar (3) tingkah laku mengajar yang di perlukan agar tujuan pebelajaran dapat tercapai. Dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Karakteristik pengembangan model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) dan pembelajaan kooperatif (PK).

Tabel 2
Perbedaan pembelajaran Berdasarkan Masalah dan Kooperatif
Ciri-ciri
Pembelajaran berdasarkan masalah
Pembelajaran kooperatif
Landasan teori
Teori belajar kognitif, teori kontruktivis
Teori belajar Sosial, Teori Kontruktivis
Pengembang Teori
Dewey, Vygotsky, Piaget
Dewey, vygotsky, Slavin, Piaget
Hasil Belajar
Ketrampilan akademik dan inkuiri
Ketrampilan akademik dan sosial
Ciri Pembelajaran
Proyek berdasarkan inkuiri yang dikerjakan dalam kelompok/ individu
Fleksibel, demokratis berpusat pada pebelajar
Berdasarkan tabel tersebut model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif dilandasi teori belajar kontruktivisme :
  1. Berpandangan bahwa pembelajaran perlu dimulai dari permasalahan nyata yang pemecahannya memerlukan kerjasama kolaborasi diantara pebelajar.
  2. memandang peran pebelajar sebagai pemandu pebelajar dalam merinci rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan yang dapat dilakukan oleh pebelajar .
  3. kemudian memandu bagaimana menggunakan keterampilan dan strategi yang diperlukan agar tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan .
  4. bergantung pada mempertahankan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan.
a.       Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning)
Menurut Resick dan Glaser dalam Bell gredler (1991:257) masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukannya diwaktu sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk memenuhi atau mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang seharusnya.
Pemecahan masalah adalah suatu proses menemukan suatu respon yang tepat terhadap suatu situasi yang benar-benar unik dan baru bagi pemecahan masalah. Kemampuan memecahkan masalah adalah salah satu bentuk kemampuan tingkat tinggi dan hierarki belajar (Dahar. 1988). Dalam pengembangan pembelajaran ini pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyeleseian tugas atau situasi yang benar-benar sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui.
Model pembelajaran berdasarkan masalah menurut Areund (1997:157) penggunaannya didalam pengembangan tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah termasuk pembelajaran bagaimana belajar. Model pembelajaran ini juga mengacu kepada pembelajaran –pembelajaran lain. Seperti pengajaran berdasarkan proyek (proyek base Instruction). Pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience base instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna pada pembelajaran ini pebelajar berperan mengajukan permasalahan atau pertanyaan memberikan dorongan, memotivasi dan menyediakan bahan ajar, dan fasilitas yang diperlukan pebelajar. Selain itu pebelajar memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intelektual pebelajar.
Pembelajaran ini banyak menumbuhkembangkan kreatifitas belajar, baik secara individual maupun secara kelompok hampir setiap langkah menuntut keaktifan pebelajar, sedangkan peranan pebelajar lebih banyak sebagai stimuli ,membimbing kegiatan pebelajar, dan menentukan arah apa yang harus dilakukan oleh pebelajar.
Beberapa kelebihan dalam pembelajaran ini adalah;
  1. Pebelajar lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.
  2. Melibatkan secara aktif memecahkan maslah dan menuntut ketrampilan berfikir pebelajar yang lebih tinggi
  3. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki pebelajar sehingga pembelajaran bermakna.
  4. Pembelajar dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diseleseikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan pebelajar terhadap bahan yang dipelajari.
  5. Menjadikan pebelajar lebih mandiri dan dewasa mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara pebelajar.
  6. Pengkondisian pebelajar dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajaran dan temuannya sehingga pencapaian kesempatan belajar pebelajar dapat diharapkan.
Karakteristik pembelajaran berdasarkan masalah menurut Areunds Richards adalah
  1. Pengajuan pertanyaan / masalah
  2. Keterkaitan dengan didiplin ilmu lain
  3. Menyelidiki autentik
  4. Memamerkan hasil kerja
  5. Kolaborasi.
Menurut Ibrahim (2002) dalam buku pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.
Tabel 3: Sintaks PBM adalah sebagai berikut :
Fase-fase
Perilaku pendidik
Fase 1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik.
Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti
Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok
Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.
                                                                                    Ibrahim.(2002)
David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
  1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
  2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
  3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
  4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
  5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)
Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
Tabel 4: Tahapan Penyelesaian Masalah
Tahap-tahap
Kemampuan yang diperlukan
Merumuskan masalah
Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas
Menelaah masalah
Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari beberapa sudut.
Merumuskan hipotesis
Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif penyelesaian.
Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis
Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table.
Pembuktian hipotesis
Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.
Menentukan pilihan penyelesaian
Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
                                                                               
Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil.
Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya. 
b. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian
Menurut Slavin (2000) Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil. Banyak terdapat pendekatan kooperatif yang berbeda satu dengan yang lain.
Aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memainkan banyak peran dalam pembelajaran. Didalam satu pelajaran tertentu pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan yang berbeda. Misalnya saja dalam pelajaran matematika para siswa bekerja sebagai kelompok-kelompok yang sedang berupaya menemukan sesuatu (misalnya saling membantu mengungkap bagaimana memecahkan soal pecahan), setelah jam pelajaran yang resmi terjadwal itu habis, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi. Akhirnya, siswa mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran tersebut dalam persiapan untuk kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. 
2.  Metode-metode Pembelajaran Kooperatif
Telah dikembangkan dan diteliti berbagai macam metode pembelajaran kooperatif yang amat berbeda dengan yang lainnya. Metode pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini diterapkan tipe jigsaw, namun tidak ada salahnya kita akan membahas beberapa metode pembelajaran kooperatif lain yang paling ekstensif, dievaluasi dan dideskripsikan adalah sebagai berikut :
a)            Cooperative Jigsaw, guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kecil yang terdiri dari 4 – 5 orang siswa dengan kemampuan yang heterogen, yang disebut kelompok asal atau kelompok induk (home group), sehingga setiap siswa bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap subtopic yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok asal yang bertanggungjawab terhadap subtopic yang sama berkumpul membentuk kelompok yang disebut kelompok ahli (expert group), siswa-siswa dalam kelompok ini bekerjasama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya, dan siswa pada kelompok ahli membubarkan diri dan kembali ke kelompok asal, maka siswa tersebut sebagai ahli dalam subtopic bagiannya dan mengajarkan informasi penting dari subtopic tersebut kepada temannya di kelompok asal.
b)            Student Teams- Achievement Division (STAD), dalam STAD (Slavin, 2000), siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang ( tidak terlalu besar). Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya menguasai pelajaran itu. Selanjutnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, pada waktu kuis ini mereka tidak boleh saling bantu. Kontribusi siswa terhadap prestasi kelompok dinilai dari peningkatan performansi murid itu sendiri tanpa dibandingkan dengan murid-murud lain.
c)       Team-Games Tournaments (TGT), guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi bahan ajar yang sama. guru juga harus bisa mengkondisikan kelas kedalam suasana berkompetisi. Kelompok mana yang menyelesaikan tugas dengan baik benar mendapat poin. Kemenangan kelompok ditentukan oleh besarnya poin yang mereka raih.
d)       Team Assisted Individualization (TAI), kegiatannya hampir sama dengan STAD. Perbedaannya terletak pada ketidaksamaan bahan pelajarannya pada masing-masing kelompok.
e)        \Cooperative Integrated Reading and composition (CIRC). CIRC adalah meliputi program pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar dan sekolah lanjutan.
3.  Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
Menurut Areunds (1997) terdapat enam tahap utama dalam belajar kooperatif. Keenam tahapan tersebut dapat disajikan sebagai berikut:
Tahap 1 Pemberian informasi tujuan belajar
Tahap2 Analisis masalah guna mencapai maksud pembelajaran sebagaimana dimaksud tahap 1 dalam hal ini pembelajar dapat mengunakan metode demonstrasi
Tahap 3 Pembentukan atau mengatur pembelajar dalam team belajar
Tahap 4 Team belajar bekerja/ melakukan belajar secara kooperatif
Tahap 5 Penyajian hasil kerja team/ unjuk kerja team
Tahap 6 Pemberian masukan dan penghargaan atas prestasi dan usaha individual maupun kelompok.
Menurut Ibrahim (2002) dalam buku pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 fase atau langkah.
            Tabel 5: Sintaks / Langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase
Perilaku pendidik
Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Pendidik menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2 : menyajikan informasi
Pendidik menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi/presentasi menggunakan multimedia atau lewat worksheet/LKS yang dibagikan.
Fase 3 : mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Pendidik menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok-kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4 : membimbing kelompok bekerja
Pendidik membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5 : Evaluasi
Pendidik mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6 : memberikan penghargaan
Pendidik mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.


                                                                                                Ibrahim.(2002)
Berdasarkan tahapan ini nampak bahwa dalam pembelajaran kooperatif pembelajar bekerja sama dan saling mempunyai ketergantungan pada tugas-tugas tujuan dan tingkat keberhasilan belajarnya.
Dengan demikian peran pembelajar dalam pembelajaran kooperatif jelas berbeda dengan pembelajaran kelompok tradisional, dalam pembelajaran kelompok tradisional, pembelajar masih dominan dalam pemberian informasi kepada pembelajar yang dalam hal ini cenderung membentuk komunikasi satu arah. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kooperatif, pada pembelajaran kooperatif pembelajar lebih bersifat mengamati pebelajar dengan seksama, pembelajar cenderung sebagai pengelola konflik.

DAFTAR PUSTAKA

Areunds Richards  1997. Classroom Instruction and Managemen. New York
                  ;MC Grew-Hiil’’

Bell Gredler, Margaret E. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta:CV.
                  Rajawali

Brooks J.G. dan Brooks M.G. 1993. In reseach of Understanding The Case of
                  Instrusional Classroom. Alexandria. Virginia: AECO.

Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-Teori Belajar.Jakarta : Erlangga

Dimyati, Mohamad. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dirjen
                  Dikti.

Ibrahim, dkk. 2002. Pembelajaran Kooperatif. University Press: Surabaya

Slavin, Robert E. 2000. Educational Psycology: Theory and Practice. USA:
                  Allyn Bacon

Slavin, Robert E. 1997. Cooperative learning jigsaw: Theory, Research, and
                  Practice(second edition). USA; Allyn Bacon

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta:
                  Kanisius.

Suharno, N. (1991). Pengembangan Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah Penerapan di Bidang Akuntansi: Desertasi PPS IKIP Malang




1.  Teori Konstruktivisme
Salah satu prinsip yang terpenting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus dapat membangun pengetahuan didalam benaknya. Peran guru disini adalah sebagai menciptakan cara mengajar yang mampu membuat informasi yang disampaikan menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa untuk menuangkan ide-idenya. Intinya guru sebagai motivator dalam pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan diatas, sebenarnya sudah terjadi revolusi di dalam psikologi pendidikan. revolosi itu terjadi karena telah munculnya teori konstruktivistik. Menurut Brooks dalam Slavin (2000:256) mengatakan “’ the essence of contructivist theory is the idea that learners must individually discover and transform complek information if they are to make it their own.
Menurut Von Glasersfeld dalam Suparno (1997) “Kontruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita konstruksi (bentukan) kita sendiri’. Hal ini berarti bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan yang ada. Tetapi pengetahuan merupakan akibat dari suatu kunstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Dalam kontruktivis menyatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, maka mereka menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain bahkan secara prinsipil.
Menurut Slavin (2000:256) contructivist theories of learning, theories that state that state that learners must individually discover and transform complekkx information, cheking new information against old rules and revising rules when they no longer work.
Jadi teori konstruktivis adalah teori yang menyatakan bahwa perolehan pengetahuan atas bentukan sendiri dari pebelajar untuk menjadi miliknya dan mentransfer informasi secara komplek menjadi sederhana bermakna, agar menjadi miliknya sendiri
2.      Sejarah Kontruktivisme
Konstruktivis lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam memahami informasi-informasi baru.
Pembelajaran sosial ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky. Menurut Karpov dan Bransford dalam Slavin (2000) yang digunkakan dalam menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek dan penemuan.
Empat kunci yang diturunkan dari teori ini adalah pertama, penekanannya pada hakikat sosial dari pembelajaran yaitu siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Kedua, zona perkembangan terdekat atau zone of proximal development yaitu bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. ketiga, pemagangan kognitif atau cognitife apprenticeship yaitu proses dimana seseorang tahap demi tahap berkesepakatan dalam belajar dengan seseorang apakah seorang yang dewasa atau teman sebaya yang lebih tinggi. Dan yang keempat adalah scaffolding atau mediated learning yaitu siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks sulit, dan realistic dan kemudian diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugasnya .
3.  Prinsip dan karakteristik Belajar Konstruktivis
Dalam teori belajar konstruktivistik (Brooks, 1990. Slavin,2000) ciri khas belajar kontruktivis adalah pebelajar harus secara individual menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi sederhana bermakna, agar menjadi miliknya sendiri. Teori ini berpendapat bahwa pebelajar selalu membandingkan informasi yang satu dengan informasi yang lain jika tidak cocok ia berupaya untuk mengubahnya agar sesuai dengan skemanya. Jadi pebelajar bersifat konstruktif, artinya membangun makna, pemahaman dari bermacam-macam informasi pengertian konstruktif dapat digambarkan sebagai proses berpikir pada saat terjadinya penemuan ilmiah, pemecahan masalah, menciptakan sesuatu, kegiatan tersebut melibatkan eksplorasi, eksperimentasi, kreatifitas, ketekunan, kesabaran, rasa ingin tahu, dan kerjasama. Pandangan ini mempunyai implementasi yang sangat besar untuk pembelajaran karena mendorong pebelajar berperan lebih aktif dalam belajarnya.
Suparno (1997) mengidentifikasi 4 prinsip kontruktivis dalam belajar yakni sebagai berikut; (1) pengetahuan dibangun oleh mahasiswa sendiri baik secara personal maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkanb dari pebelajar kepada pebelajar, kecuali dengan keaktifan mahasiswa itu sendiri untuk menalar, (3) pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien.
Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pebelajar membangun sendiri pengetahuannya sendiri, mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi
Sedangkan Slavin (1997) mengidentifikasi 4 karakteristik belajar dengan pendekatan konstruksi yaitu : (1) Proses Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa dapat diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca. (2) pembelajaran kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temanya. (3) Generative learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun apabila kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi mental dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman mereka. (4) pembelajaran dengan penemuan yaitu, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
4. Pembelajaran Menurut Konsep Kontruktivisme
Menurut konsep kontruktivisme, pengetahuan seseorang bersifat temporer, terus berkembang, terbentuk dengan mediasi masyarakat dan budaya. Pengetahuan itu tidak pernah berhenti berkembang. Pengetahuan dalam diri seseorang terbentuk ketika seseorang mengalami tempaan kognitif. Melalui persepektif ini belajar dapat dipahami sebagai proses terbentuknya konflik kognitif yang bergulir dengan sendirinya dalam diri seseorang ketika yang bersangkutan memperoleh pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan kegiatan melakukan refleksi.
Para pendidik yang telah mencoba mewujudkan paradigma konstruktivisme didalam kelas kemudian mendiskripsikan prinsip-prinsip pembelajaran berdasarkan paradigma tersebut. Catherine Twomey Fosnot, ketika memberikan pengantarnya untuk buku berjudul “ In Search of Understanding the Case for Contructivist Classroom” karya Grennon Brooks dan Brooks (1993) mengformulasikan 5 prinsip belajar menurut paradigma konstruktivisme yang satu dengan yang lain berjalin berkelindan, yaitu: (1) menghadapkan peserta didik kepada problem yang saling berkaitan; (2) membuat struktur pembelajaran lewat konsep pokok dan disekitar pikiran dasarnya; (3) mendorong dan menghargai munculnya pandangan dari dalam diri peserta didik ; (4) kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan dan kemauan peserta didik, dan (5) selalu menilai kemajuan peserta didik melalui konteks pembelajaran. Kelima prinsip akan menjadi subur didalam kelas apabila guru dengan iklas menerima dan mendorong tumbuhnya otonomi dalam diri siswa, data mentah hasil belajar dan sumber utama rekaman hasil belajar lainnya dijadikan dasar untuk meneliti kemajuan belajar siswa. Kelas akan menjadi hidup dan suasana kelas kontruktivisme akan mendapatkan lahan yang subur apabila guru menerima dengan lapang dada terbuka dan memberikan tempat terhadap munculnya pikiran siswa, rasa ingin tahu, keinginan meneliti, dialog guru siswa dan siswa-siswa, serta keberanian mempersoalkan sesuatu yang belum jelas.
Driver dan Oldham dalam suparno (1997) menyatakan beberapa ciri mengajar kontruktivis, sebagai berikut :
  1. Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topik yang hendak dipelajari.
  2. Elicitasi, murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain. Murid diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasikan, dalam wujud tulisan, gambar, ataupun poster.
  3. Restrukrisasi ide. Dalam hal ini ada 3 hal yaitu; (1) klasifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain/ teman lewat diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk mengkonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok ; (2) membangun ide baru, ini terjadi bila dlam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan teman.;(3) mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen, kalau dimungkinkan ada baiknya gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan percobaan atau persoalan yang baru.
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan dalam banyak situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap, bahkan lebih rinci dengan segala pengecualiannya.
  5. Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya entah dengan menambah sesuatu, atau mengubahnya menjadi lebih lengkap.
5.   Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontruktivis
Model pembelajaran yang di kembangkan dengan pendekatan Konstruktivistik adalah Model pembelajaran berdasarkan Masalah (Problem based Learning ). Dan pembelajaran kooperatif (cooperative learning).Model pembelajaran ini mencakup pendekatan pembelajaran luas, dan menyeluruh (Areunds ,1997;7)
Model problem based learning meliputi kelompok–kelompok belajar pembelajaran. Bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah di sepakati bersama. Pebelajar menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur, pemecahan masalah dan berfikir kritis, dengan demikian modal pembelajaran yang di kembangkan menggunakan sejumlah keterampilan metodologi dan posedural seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan , melakukan penelitian , berdiskusi dan memperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif , menciptakan suatu karya ,dan melakukan presentasi.
Beberapa alasan yang di jadikan pijakan dalam mengembangkan model pembelajaran ini, yakni (1) rasional, teorik yang logis yang di susun oleh para pengembang (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana pebelajar belajar (3) tingkah laku mengajar yang di perlukan agar tujuan pebelajaran dapat tercapai. Dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Karakteristik pengembangan model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) dan pembelajaan kooperatif (PK).

Tabel 2
Perbedaan pembelajaran Berdasarkan Masalah dan Kooperatif
Ciri-ciri
Pembelajaran berdasarkan masalah
Pembelajaran kooperatif
Landasan teori
Teori belajar kognitif, teori kontruktivis
Teori belajar Sosial, Teori Kontruktivis
Pengembang Teori
Dewey, Vygotsky, Piaget
Dewey, vygotsky, Slavin, Piaget
Hasil Belajar
Ketrampilan akademik dan inkuiri
Ketrampilan akademik dan sosial
Ciri Pembelajaran
Proyek berdasarkan inkuiri yang dikerjakan dalam kelompok/ individu
Fleksibel, demokratis berpusat pada pebelajar
Berdasarkan tabel tersebut model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif dilandasi teori belajar kontruktivisme :
  1. Berpandangan bahwa pembelajaran perlu dimulai dari permasalahan nyata yang pemecahannya memerlukan kerjasama kolaborasi diantara pebelajar.
  2. memandang peran pebelajar sebagai pemandu pebelajar dalam merinci rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan yang dapat dilakukan oleh pebelajar .
  3. kemudian memandu bagaimana menggunakan keterampilan dan strategi yang diperlukan agar tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan .
  4. bergantung pada mempertahankan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan.
a.       Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning)
Menurut Resick dan Glaser dalam Bell gredler (1991:257) masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukannya diwaktu sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk memenuhi atau mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang seharusnya.
Pemecahan masalah adalah suatu proses menemukan suatu respon yang tepat terhadap suatu situasi yang benar-benar unik dan baru bagi pemecahan masalah. Kemampuan memecahkan masalah adalah salah satu bentuk kemampuan tingkat tinggi dan hierarki belajar (Dahar. 1988). Dalam pengembangan pembelajaran ini pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyeleseian tugas atau situasi yang benar-benar sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui.
Model pembelajaran berdasarkan masalah menurut Areund (1997:157) penggunaannya didalam pengembangan tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah termasuk pembelajaran bagaimana belajar. Model pembelajaran ini juga mengacu kepada pembelajaran –pembelajaran lain. Seperti pengajaran berdasarkan proyek (proyek base Instruction). Pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience base instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna pada pembelajaran ini pebelajar berperan mengajukan permasalahan atau pertanyaan memberikan dorongan, memotivasi dan menyediakan bahan ajar, dan fasilitas yang diperlukan pebelajar. Selain itu pebelajar memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intelektual pebelajar.
Pembelajaran ini banyak menumbuhkembangkan kreatifitas belajar, baik secara individual maupun secara kelompok hampir setiap langkah menuntut keaktifan pebelajar, sedangkan peranan pebelajar lebih banyak sebagai stimuli ,membimbing kegiatan pebelajar, dan menentukan arah apa yang harus dilakukan oleh pebelajar.
Beberapa kelebihan dalam pembelajaran ini adalah;
  1. Pebelajar lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.
  2. Melibatkan secara aktif memecahkan maslah dan menuntut ketrampilan berfikir pebelajar yang lebih tinggi
  3. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki pebelajar sehingga pembelajaran bermakna.
  4. Pembelajar dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diseleseikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan pebelajar terhadap bahan yang dipelajari.
  5. Menjadikan pebelajar lebih mandiri dan dewasa mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara pebelajar.
  6. Pengkondisian pebelajar dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajaran dan temuannya sehingga pencapaian kesempatan belajar pebelajar dapat diharapkan.
Karakteristik pembelajaran berdasarkan masalah menurut Areunds Richards adalah
  1. Pengajuan pertanyaan / masalah
  2. Keterkaitan dengan didiplin ilmu lain
  3. Menyelidiki autentik
  4. Memamerkan hasil kerja
  5. Kolaborasi.
Menurut Ibrahim (2002) dalam buku pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.
Tabel 3: Sintaks PBM adalah sebagai berikut :
Fase-fase
Perilaku pendidik
Fase 1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik.
Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti
Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok
Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.
                                                                                    Ibrahim.(2002)
David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
  1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
  2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
  3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
  4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
  5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)
Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
Tabel 4: Tahapan Penyelesaian Masalah
Tahap-tahap
Kemampuan yang diperlukan
Merumuskan masalah
Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas
Menelaah masalah
Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari beberapa sudut.
Merumuskan hipotesis
Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif penyelesaian.
Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis
Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table.
Pembuktian hipotesis
Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.
Menentukan pilihan penyelesaian
Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
                                                                               
Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil.
Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya. 
b. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian
Menurut Slavin (2000) Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil. Banyak terdapat pendekatan kooperatif yang berbeda satu dengan yang lain.
Aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memainkan banyak peran dalam pembelajaran. Didalam satu pelajaran tertentu pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan yang berbeda. Misalnya saja dalam pelajaran matematika para siswa bekerja sebagai kelompok-kelompok yang sedang berupaya menemukan sesuatu (misalnya saling membantu mengungkap bagaimana memecahkan soal pecahan), setelah jam pelajaran yang resmi terjadwal itu habis, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi. Akhirnya, siswa mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran tersebut dalam persiapan untuk kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. 
2.  Metode-metode Pembelajaran Kooperatif
Telah dikembangkan dan diteliti berbagai macam metode pembelajaran kooperatif yang amat berbeda dengan yang lainnya. Metode pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini diterapkan tipe jigsaw, namun tidak ada salahnya kita akan membahas beberapa metode pembelajaran kooperatif lain yang paling ekstensif, dievaluasi dan dideskripsikan adalah sebagai berikut :
a)            Cooperative Jigsaw, guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kecil yang terdiri dari 4 – 5 orang siswa dengan kemampuan yang heterogen, yang disebut kelompok asal atau kelompok induk (home group), sehingga setiap siswa bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap subtopic yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok asal yang bertanggungjawab terhadap subtopic yang sama berkumpul membentuk kelompok yang disebut kelompok ahli (expert group), siswa-siswa dalam kelompok ini bekerjasama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya, dan siswa pada kelompok ahli membubarkan diri dan kembali ke kelompok asal, maka siswa tersebut sebagai ahli dalam subtopic bagiannya dan mengajarkan informasi penting dari subtopic tersebut kepada temannya di kelompok asal.
b)            Student Teams- Achievement Division (STAD), dalam STAD (Slavin, 2000), siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang ( tidak terlalu besar). Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya menguasai pelajaran itu. Selanjutnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, pada waktu kuis ini mereka tidak boleh saling bantu. Kontribusi siswa terhadap prestasi kelompok dinilai dari peningkatan performansi murid itu sendiri tanpa dibandingkan dengan murid-murud lain.
c)       Team-Games Tournaments (TGT), guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi bahan ajar yang sama. guru juga harus bisa mengkondisikan kelas kedalam suasana berkompetisi. Kelompok mana yang menyelesaikan tugas dengan baik benar mendapat poin. Kemenangan kelompok ditentukan oleh besarnya poin yang mereka raih.
d)       Team Assisted Individualization (TAI), kegiatannya hampir sama dengan STAD. Perbedaannya terletak pada ketidaksamaan bahan pelajarannya pada masing-masing kelompok.
e)        \Cooperative Integrated Reading and composition (CIRC). CIRC adalah meliputi program pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar dan sekolah lanjutan.
3.  Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
Menurut Areunds (1997) terdapat enam tahap utama dalam belajar kooperatif. Keenam tahapan tersebut dapat disajikan sebagai berikut:
Tahap 1 Pemberian informasi tujuan belajar
Tahap2 Analisis masalah guna mencapai maksud pembelajaran sebagaimana dimaksud tahap 1 dalam hal ini pembelajar dapat mengunakan metode demonstrasi
Tahap 3 Pembentukan atau mengatur pembelajar dalam team belajar
Tahap 4 Team belajar bekerja/ melakukan belajar secara kooperatif
Tahap 5 Penyajian hasil kerja team/ unjuk kerja team
Tahap 6 Pemberian masukan dan penghargaan atas prestasi dan usaha individual maupun kelompok.
Menurut Ibrahim (2002) dalam buku pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 fase atau langkah.
            Tabel 5: Sintaks / Langkah Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase
Perilaku pendidik
Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Pendidik menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2 : menyajikan informasi
Pendidik menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi/presentasi menggunakan multimedia atau lewat worksheet/LKS yang dibagikan.
Fase 3 : mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Pendidik menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok-kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4 : membimbing kelompok bekerja
Pendidik membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5 : Evaluasi
Pendidik mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6 : memberikan penghargaan
Pendidik mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.


                                                                                                Ibrahim.(2002)
Berdasarkan tahapan ini nampak bahwa dalam pembelajaran kooperatif pembelajar bekerja sama dan saling mempunyai ketergantungan pada tugas-tugas tujuan dan tingkat keberhasilan belajarnya.
Dengan demikian peran pembelajar dalam pembelajaran kooperatif jelas berbeda dengan pembelajaran kelompok tradisional, dalam pembelajaran kelompok tradisional, pembelajar masih dominan dalam pemberian informasi kepada pembelajar yang dalam hal ini cenderung membentuk komunikasi satu arah. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kooperatif, pada pembelajaran kooperatif pembelajar lebih bersifat mengamati pebelajar dengan seksama, pembelajar cenderung sebagai pengelola konflik.

DAFTAR PUSTAKA

Areunds Richards  1997. Classroom Instruction and Managemen. New York
                  ;MC Grew-Hiil’’

Bell Gredler, Margaret E. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta:CV.
                  Rajawali

Brooks J.G. dan Brooks M.G. 1993. In reseach of Understanding The Case of
                  Instrusional Classroom. Alexandria. Virginia: AECO.

Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-Teori Belajar.Jakarta : Erlangga

Dimyati, Mohamad. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dirjen
                  Dikti.

Ibrahim, dkk. 2002. Pembelajaran Kooperatif. University Press: Surabaya

Slavin, Robert E. 2000. Educational Psycology: Theory and Practice. USA:
                  Allyn Bacon

Slavin, Robert E. 1997. Cooperative learning jigsaw: Theory, Research, and
                  Practice(second edition). USA; Allyn Bacon

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta:
                  Kanisius.

Suharno, N. (1991). Pengembangan Model Pembelajaran Pemecahan
Masalah Penerapan di Bidang Akuntansi: Desertasi PPS IKIP Malang